Bank Sampah Induk Kumala: Tukar Sampah, Dapat Manfaat!

Bank Sampah Induk Kumala: Tukar Sampah, Dapat Manfaat!

Jakarta – Bertepatan dengan Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia yang jatuh pada 3 Juli 2025, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa mengunjungi Bank Sampah Induk Kumala yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Warga datang untuk menukarkan sampah plastik yang dikumpulkan di rumah menjadi paket bermanfaat. Bahkan, minyak jelantah dari UMKM pun bisa disalurkan ke sini agar tidak mencemari air tanah.

Warga yang menjadi nasabah Bank Sampah Induk Kumala pun merasa sangat terbantu karena bisa mendapat manfaat berupa uang dan secara langsung aktif ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan. Bank Sampah Induk Kumala tidak hanya memilah dan memadatkan sampah untuk didaur ulang. Mereka juga memproduksi gelas, mangkok, dan sendok dari bahan daur ulang seperti kayu palet, serta menerima pesanan khusus dengan teknik laser untuk kebutuhan promosi atau produk kreatif.

Yayasan Wijaya Peduli Bangsa yakin jika kolaborasi bersama Bank Sampah Induk Kumala kali ini bukan hanya soal menjaga lingkungan, tapi juga bagaimana memberdayakan ekonomi lokal dan mengedukasi masyarakat. Melalui tindakan nyata dan kesadaran, besar harapan kita sebagai bagian dari masyarakat bisa lebih mandiri dan semakin peduli dengan kelestarian bumi.

Kunjungan ke Bank Sampah Induk Kumala: Dari Sampah Jadi Rupiah!

Kunjungan ke Bank Sampah Induk Kumala: Dari Sampah Jadi Rupiah!

Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa mengunjungi Bank Sampah Induk Kumala yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di tempat ini, sampah plastik, kertas, hingga kayu bekas diolah menjadi produk bermanfaat seperti gelas kayu, paper bag, bahkan souvenir cantik.

Proses pengumpulan dimulai dari penimbangan, pemilahan, hingga pengepresan manual. Tidak hanya plastik bening, Bank Sampah Induk Kumala juga menerima berbagai jenis sampah plastik berwarna. Bahkan, kayu palet bekas pun mereka olah menjadi produk bernilai jual tinggi. Kreativitas warga setempat membuat program ini menjadi solusi ekonomi dan lingkungan sekaligus.

Melalui aksi nyata Bank Sampah Induk Kumala, kita melihat langsung bagaimana edukasi lingkungan diterapkan dan ekonomi sirkular dijalankan dengan baik. Yayasan Wijaya Peduli Bangsa berharap gerakan seperti ini mampu menginspirasi banyak pihak untuk lebih peduli terhadap sampah dan dampak buruknya pada lingkungan.

Gratis & Ramai! Cek Kolesterol Hingga Gula Darah Lansia

Gratis & Ramai! Cek Kolesterol Hingga Gula Darah Lansia

Jakarta – Acara cek kesehatan gratis untuk lansia kali ini tak seperti biasanya. Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa pun hadir untuk langsung memberikan dukungan untuk kegiatan yang berhasil menjangkau seluruh RT di RW 06, dari RT 01 hingga RT 16. Lansia memadati lokasi, mendapatkan pengecekan gula darah, kolesterol, hingga asam urat secara gratis!

Para kader Posbindu bahkan ‘menjemput bola’ dengan mendatangi rumah lansia yang kesulitan jika harus datang sendiri. Kegiatan ini pun mendapat sambutan positif dari masyarakat, termasuk Pak Saripudin yang merupakan warga asli RT 06. Ia menyampaikan rasa syukur karena bisa mengetahui kondisi kesehatannya tanpa biaya.

Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa aksi sosial bisa berdampak besar, terutama bagi kalangan lansia yang seringkali terabaikan. Lewat aksi nyata ini pula, RW 06 dan Yayasan Wijaya Peduli Bangsa ingin memberikan ruang aman sekaligus perhatian bagi mereka yang telah berjasa membangun bangsa ini.

Gratis atau Tidak, Lansia Butuh Perhatian dan Cek Rutin

Gratis atau Tidak, Lansia Butuh Perhatian dan Cek Rutin

Jakarta – Bertepatan dengan Hari Lanjut Usia Nasional yang jatuh pada 29 Mei 2025 lalu, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa berkolaborasi dengan Posbindu RW 06 Kelurahan Pejaten Timur, Pasar Minggu untuk menghadirkan layanan cek kesehatan gratis bagi lansia. Kali ini Yayasan Wijaya Peduli Bangsa pun berbincang dengan Ibu Wardah selaku Ketua RT 06 RW 06 tentang tantangan dalam mendampingi para lansia di lingkungannya.

Mulai dari yang sakit ringan hingga yang harus terbaring penuh, semuanya menjadi perhatian utama dalam program kesehatan RT setempat. Bu Wardah menjelaskan pentingnya edukasi dan pendekatan personal kepada keluarga agar lansia mau menjalani pemeriksaan. Meskipun terkendala peralatan seperti strip pemeriksaan yang harus dibeli mandiri, RT 06 terus berinovasi dan bekerja sama dengan pihak-pihak yang peduli. Pendekatan dari hati ke hati menjadi kunci dalam menjangkau lansia yang awalnya enggan diperiksa.

Kegiatan cek kesehatan yang dilakukan setiap bulan dapat menjadi solusi nyata, terutama bagi mereka yang kesulitan menjangkau puskesmas. Yayasan Wijaya Peduli Bangsa pun yakin jika perhatian kecil terhadap lansia di sekitar kita bisa menjadi langkah besar menuju hidup sehat mereka di usia senja. Mari menjadi bagian dari perubahan dengan mulai peduli hari ini.

Posbindu dan Harapan Untuk Lansia Pejaten Timur

Posbindu dan Harapan Untuk Lansia Pejaten Timur

Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional 2025, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa berkolaborasi dengan Posbindu RW 06 Kelurahan Pejaten Timur, Pasar Minggu untuk menghadirkan layanan cek kesehatan gratis bagi lansia. Kegiatan ini melibatkan pemeriksaan rutin gula darah, kolesterol, dan asam urat, serta pemberian makanan tambahan (PMT) yang disesuaikan untuk kebutuhan para lansia.

Ibu Ningsih, Kepala Posbindu Lansia RW 06, menjelaskan bagaimana kegiatan ini dijalankan secara mandiri karena dukungan alat dari pemerintah sudah berkurang namun semangat warga tetap tinggi. Pemeriksaan pun dilakukan setiap bulan, disertai edukasi mengenai pola makan sehat dan olahraga ringan yang diadakan rutin setiap Rabu pagi.

Kolaborasi Yayasan Wijaya Peduli Bangsa bersama RT, RW, puskesmas dan masyarakat sekitar jadi contoh nyata bahwa dengan kegiatan dan niat baik, kesehatan warga lanjut usia tetap bisa dijaga. Mari terus dukung dan sebarkan semangat gotong royong demi masa tua yang lebih sehat dan bermartabat. Karena setiap lansia berhak untuk hidup sehat dan bahagia, sampai usia senja.

Aksi Nyata Yayasan Wijaya Peduli Bangsa Dukung Lansia Sehat

Aksi Nyata Yayasan Wijaya Peduli Bangsa Dukung Lansia Sehat

Jakarta – Bertepatan dengan Hari Lanjut Usia Nasional yang jatuh pada 29 Mei 2025, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa kembali menunjukan aksi nyata untuk masyarakat. Kali ini, Yayasan Wijaya Peduli Bangsa menggelar kegiatan bakti sosial berupa cek kesehatan gratis untuk warga lanjut usia (lansia) di RT 06, RW 06, Kelurahan Pejaten Timur, Jakarta Selatan.

Acara pemeriksaan yang dilakukan meliputi pengecekan gula darah, kolesterol dan asam urat secara gratis. Dihadiri langsung oleh Eddy Wijaya, aksi ini pun mendapat dukungan penuh dari pihak RT, para kader PKK dan tokoh masyarakat setempat. Meskipun diguyur hujan deras, semangat para lansia dan relawan tidak surut demi memastikan kesehatan para lansia dan menjalin silaturahmi.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Wijaya Peduli Bangsa berharap bisa meningkatkan kepedulian kepada orang tua dan para lansia di sekitar kita. Karena perhatian kecil bisa berarti sangat besar bagi mereka yang telah lebih dulu menapaki perjalanan hidup ini. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus menjadi jembatan kasih antar generasi.

Orang Tua Murid SAAJA: Sekolah Sederhana Dengan Dampak Luar Biasa

Orang Tua Murid SAAJA: Sekolah Sederhana Dengan Dampak Luar Biasa

Jakarta – Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei lalu, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa mengunjungi Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) yang berlokasi di Jl. Jembatan Merah No. 2, Karet, Kuningan, Jakarta Selatan. Kunjungan ini merupakan komitmen nyata Yayasan Wijaya Peduli Bangsa dalam menghadirkan harapan dan perubahan.

Berdiri sejak tahun 2002, SAAJA setia mendampingi anak-anak usia 5-7 tahun dalam dua kelas, TK-A dan TK-B, yang kini berjumlah 35 siswa dengan 2 tenaga pengajar dan telah membawa perubahan besar dalam perilaku maupun semangat belajar anak-anak. Hal ini diakui oleh Ibu Melda, Ibu Dahlia dan Ibu Elis selaku orang tua murid di sekolah tersebut.

Mulai dari anak yang awalnya pemalu dan tertutup, kini menjadi lebih percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab. Mereka belajar doa, sopan santun, antri, bahkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Semua ini didapat bukan dari sekolah mahal, tapi dari tempat sederhana yang penuh kasih dan perhatian.

Kesaksian ini merupakan bukti nyata bahwa pendidikan berkualitas bisa hadir di tengah keterbatasan. Yayasan Wijaya Peduli Bangsa pun akan terus bergerak karena kami percaya, setiap langkah kecil menuju pendidikan yang lebih baik adalah investasi besar bagi masa depan para penerus bangsa.

Cinta dan Pengabdian: Cerita Ibu Nurlailah di Sekolah Anak Jalanan

Cinta dan Pengabdian: Cerita Ibu Nurlailah di Sekolah Anak Jalanan

Jakarta – Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa kembali menunjukkan komitmen nyata untuk perubahan. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei lalu, Yayasan Wijaya Peduli Bangsa pun mengunjungi Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) yang berlokasi di Jl. Jembatan Merah No. 2, Karet, Kuningan, Jakarta Selatan.

Ibu Nurlailah, adalah salah satu sosok guru yang dipenuhi rasa cinta dan ketulusan dalam mengajar anak-anak di SAAJA. Ketika salah seorang murid mengaku belum pernah disayang atau dipanggil ‘nak’ oleh siapapun di rumah, ia pun merasa pekerjaannya adalah panggilan jiwa. Karena itu sejak tahun 2015, Ibu Nurlailah bertekad mengajar anak-anak yang berasal dari lingkungan keras dan menyesuaikan pendekatan pengajaran agar mereka merasa aman, didengar dan dihargai.

Kisah Ibu Nurlailah bukan hanya tentang pendidikan, tapi tentang kemanusiaan, pengorbanan, cinta dan harapan bagi para calon generasi penerus bangsa. Karena perubahan dapat lahir dari sebuah niat tulus, tekad kuat, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak bermimpi serta meraih masa depan yang lebih baik dalam hidup mereka.

Sekolah Anak Jalanan: Lahir Karena Harapan, Impian dan Cinta

Sekolah Anak Jalanan: Lahir Karena Harapan, Impian dan Cinta

Jakarta – Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei lalu, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan harapan dan perubahan dengan mengunjungi Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). Sekolah kecil yang berlokasi di Jl. Jembatan Merah No. 2, Karet, Kuningan, Jakarta Selatan ini memiliki semangat besar di tengah hingar-bingar ibu kota.

SAAJA terasa istimewa berkat kehadiran sosok Ibu Iin dan Ibu Nurlailah yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik anak-anak jalanan. Sejak tahun 2002, keduanya bukan hanya menjadi pendidik, tetapi juga menjadi Ibu, sahabat, dan penyemangat bagi ratusan anak yang datang dari latar belakang penuh keterbatasan.

Menaungi anak-anak jalanan berusia 5-7 tahun, SAAJA telah meluluskan lebih dari 700 anak dari jenjang TK-A dan TK-B sejak mereka berdiri di tahun 2002. Lebih dari sekedar membekali ilmu dasar seperti membaca dan menghitung, sekolah alternatif ini pun mengajarkan keberanian untuk bermimpi di tengah realitas yang keras.

Hari Pendidikan Nasional ini menjadi pengingat bahwa di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, masih ada ruang kecil yang menyimpan harapan, impian dan cinta bagi generasi penerus bangsa. Karena setiap anak, berhak untuk bermimpi serta meraih pendidikan dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Sekolah Alternatif Anak Jalanan: 35 Anak, 2 Guru, 1 Harapan

Sekolah Alternatif Anak Jalanan: 35 Anak, 2 Guru, 1 Harapan

Jakarta – Dalam semangat memperingati Hari Pendidikan Nasional, Yayasan Wijaya Peduli Bangsa kembali melangkah nyata menyebarkan cahaya harapan. Kali ini, langkah itu sampai di Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA), sebuah ruang belajar sederhana namun sarat makna di tengah riuhnya kehidupan kota.

Sekolah ini berdiri sejak tahun 2002, didirikan atas dasar kepedulian dan cinta oleh sosok-sosok luar biasa, seperti Ibu Kristina Iin Dwiyanti yang akrab disapa Bu Iin bersama rekannya, Bu Nunung. Hanya dengan dua tenaga pengajar, mereka setia mendampingi anak-anak usia 5 hingga 7 tahun dalam dua kelas, TK-A dan TK-B, dengan jumlah total 35 siswa. Hingga kini, hampir 700 anak telah mereka dampingi melewati masa-masa awal pendidikan, membekali mereka dengan nilai-nilai dasar kehidupan.

Kunjungan Yayasan Wijaya Peduli Bangsa ke SAAJA bukan sekadar seremoni. Kami datang membawa perhatian dan kasih yang nyata—paket alat tulis untuk mendukung proses belajar, camilan untuk membangkitkan semangat anak-anak, paket sembako untuk orangtua dan guru, serta dukungan dana operasional demi kelangsungan sekolah ini.

Tak berhenti sampai di situ, kami juga ingin melihat tawa dan binar mata anak-anak itu. Maka, digelarlah beragam permainan seru, lengkap dengan hadiah menarik yang membuat suasana semakin hangat dan penuh kegembiraan.

Karena kami percaya, pendidikan bukan hanya tentang buku dan angka. Pendidikan adalah tentang rasa aman, dukungan, dan harapan. Dan di SAAJA, kami melihat semua itu. Di tengah keterbatasan, mereka tetap berdiri teguh, menjadi ruang aman bagi anak-anak jalanan yang mendambakan masa depan yang lebih cerah.

Semangat Bu Iin dan Bu Nunung mengajarkan kita bahwa perubahan tidak harus datang dari gedung megah atau fasilitas mewah. Terkadang, perubahan lahir dari sebuah niat tulus, tekad kuat, dan keyakinan bahwa setiap anak—siapapun mereka—berhak bermimpi.

Yayasan Wijaya Peduli Bangsa akan terus bergerak. Karena kami percaya, setiap langkah kecil menuju pendidikan yang lebih baik adalah investasi besar bagi masa depan bangsa. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari kita jaga asa, tumbuhkan semangat, dan nyalakan harapan di setiap sudut negeri.

Copyright © 2026 Yayasan Wijaya Peduli Bangsa