Dedikasi Yayasan Wijaya Peduli Bangsa dalam Membangun Harapan Pendidikan Anak Indonesia

Dedikasi Yayasan Wijaya Peduli Bangsa dalam Membangun Harapan Pendidikan Anak Indonesia

Jakarta – Yayasan Wijaya Peduli Bangsa di bawah kepemimpinan Bapak Eddy Wijaya terus menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung pendidikan di Indonesia. Melalui berbagai program kunjungan dan bantuan, yayasan ini hadir untuk memberi semangat serta dukungan kepada anak-anak yang membutuhkan.

Dalam video ini, Bapak Eddy Wijaya berkesempatan mengunjungi beberapa tempat pendidikan, mulai dari Pesantren Hidayatul Muta’alimin Al Hasymiyah di Babakan Sadeng Bogor, Sekolah Darurat Kartini di Jakarta Utara, Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) di Kuningan Jakarta Selatan, hingga Sekolah dan Sanggar SAJA di Penjaringan Jakarta Utara. Setiap kunjungan menjadi bukti nyata kepedulian untuk memberikan semangat belajar serta menumbuhkan motivasi untuk pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda.

Kilas balik perjalanan ini bukan sekadar cerita, melainkan cerminan dedikasi Yayasan Wijaya Peduli Bangsa dalam membangun harapan melalui pendidikan. Mari kita bersama-sama mendukung langkah kecil yang membawa perubahan besar bagi masa depan anak-anak Indonesia.

Napak Tilas ke Rengasdengklok: Rumah dan Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia

Napak Tilas ke Rengasdengklok: Rumah dan Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia

Jakarta – Pada 16 Agustus 2025 lalu, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa berkunjung ke rumah bersejarah di Rengasdengklok, tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kunjungan ini menjadi momen berharga untuk melihat langsung salah satu saksi bisu perjuangan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Eddy Wijaya berbincang hangat dengan Pak Yanto, cucu dari Djiaw Kie Siong, pemilik rumah yang pernah menjadi tempat bermalam Bung Karno dan Bung Hatta. Pak Yanto menceritakan kisah sejarah rumah itu, mulai dari detik-detik menegangkan menjelang proklamasi hingga kondisi rumah yang kini masih berdiri.

Momen ini sekaligus mengajak kita untuk mengenang kembali perjuangan para pendiri bangsa dan menyadari pentingnya menjaga warisan sejarah. Mari bersama-sama menghargai jasa para pahlawan, agar generasi muda tidak melupakan akar kemerdekaan Indonesia.

Kisah Teddy Soediro, 15 Tahun Setia Meneruskan Wasiat Sang Ayah

Kisah Teddy Soediro, 15 Tahun Setia Meneruskan Wasiat Sang Ayah

Jakarta – Dalam rangka memperingati 17 Agustus 2025, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa bersama para relawan kembali menggelar aksi sosial untuk berbagi sembako di sekitar Monumen Kebulatan Tekad, Rengasdengklok. Kegiatan ini juga berkolaborasi dengan Bapak Teddy Soediro yang sekaligus menjadi momen napak tilas dalam mengenang perjuangan kemerdekaan dan sosok almarhum Mayjen TNI (Purn.) H. Herman Sarens Soediro, pencetus tradisi napak tilas tersebut.

Dalam obrolan kali ini, Bapak Teddy Soediro menceritakan bagaimana ia meneruskan pesan dan amanah sang ayah sejak 2010, hingga kini sudah 15 tahun berjalan tanpa pernah sekalipun berhenti. Ia berbagi kenangan tentang ayahnya yang dikenal nyentrik, ramah, serta berperan dalam banyak misi penting bangsa, termasuk pembelian tanah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Cilangkap untuk persatuan TNI.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diteruskan. Seperti pesan dan semangat Mayjen TNI (Purn.) H. Herman Sarens Soediro di mana generasi muda tidak boleh melupakan sejarah bangsanya. Mari kita ambil inspirasi dari perjuangan ini, menjaga semangat kemerdekaan, dan terus menyalakan harapan untuk Indonesia.

Pak Suherman Ungkap Kisah di Balik Monumen Kebulatan Tekad 1949

Pak Suherman Ungkap Kisah di Balik Monumen Kebulatan Tekad 1949

Jakarta –  Pada 16 Agustus 2025 lalu Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa bersama para relawan berkolaborasi dengan Bapak Teddy Soediro untuk mengadakan kegiatan berbagi sembako untuk masyarakat di sekitar Monumen Kebulatan Tekad Proklamasi, Rengasdengklok. Acara ini bukan sekadar aksi sosial, tetapi juga momen untuk mengenang perjuangan para pahlawan bangsa yang pernah mengukir sejarah di tempat ini.

Eddy Wijaya pun berkesempatan berbincang dengan Bapak Suherman, Ketua Umum Yayasan Sangga Buana Indonesia, yang telah tinggal selama 62 tahun di sekitar monumen ini. Ia menceritakan asal-usul pendirian monumen pada tahun 1949-1950, peran para tokoh sejarah, hingga makna kebulatan tekad yang diwariskan untuk generasi muda.

Momen kolaborasi Yayasan Wijaya Peduli Bangsa bersama Bapak Teddy Soediro di Monumen Kebulatan Tekad Proklamasi kali ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya sekedar cerita masa lalu, tetapi api semangat yang harus dijaga. Karena, setiap langkah kecil kita untuk peduli pada sesama adalah salah satu cara sederhana untuk menjaga Indonesia tetap merdeka, sekarang dan selamanya.

Demi Pendidikan, Bu Nunu Rela Tempuh Perjalanan Jauh Setiap Hari

Demi Pendidikan, Bu Nunu Rela Tempuh Perjalanan Jauh Setiap Hari

Jakarta – Pada 23 Juli lalu, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa bersama para relawan mengunjungi Sekolah dan Sanggar S.A.J.A. untuk berbagi kasih sekaligus merayakan Hari Anak Nasional 2025. Pada momen ini, Tondy Nugroho sebagai perwakilan relawan dari Yayasan Wijaya Peduli Bangsa berkesempatan untuk berbincang dengan Ibu Nurlailah, S.Pd., atau yang akrab disapa Bu Nunu sebagai salah satu tenaga pengajar di sekolah yang berlokasi di Penjaringan, Jakarta Utara.

Selama 13 tahun, Bu Nunu setia mengajar anak-anak di sekolah yang dulunya berdiri di bawah kolong jembatan Jakarta Utara. Setiap harinya, Bu Nunu menempuh perjalanan jauh dari Bogor demi memastikan anak-anak didiknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Bu Nunu berbagi tantangan yang ia hadapi mulai dari minimnya dukungan orang tua, pengaruh lingkungan yang negatif, hingga pentingnya menjaga motivasi belajar anak. Tak terkecuali transformasi murid-muridnya yang dulu enggan bersekolah, kini telah menjadi siswa yang berprestasi.

Sosok Bu Nunu menjadi representasi dari perjuangan, kesetiaan dan cinta kasih akan dunia pendidikan anak-anak tanpa memandang latar belakang mereka. Semoga apa yang menjadi perjuangan Bu Nunu mampu mengetuk hati banyak orang untuk semakin peduli dengan dunia pendidikan, mengingat Yayasan Wijaya Peduli Bangsa meyakini bahwa setiap anak-anak berhak untuk bermimpi besar dan mendapatkan pendidikan yang layak sebagai fondasi masa depan mereka.

Dari Kolong Tol Jadi Sekolah: Kisah Inspiratif Pak Rendy dan S.A.J.A.

Dari Kolong Tol Jadi Sekolah: Kisah Inspiratif Pak Rendy dan S.A.J.A.

Jakarta – Bertepatan dengan Hari Anak Nasional 2025 pada 23 Juli lalu, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa bersama para relawan mengunjungi Sekolah dan Sanggar S.A.J.A. di Penjaringan, Jakarta Utara. Didirikan oleh Reinhard Hutabarat sejak tahun 2001, sekolah ini menyasar anak-anak jalanan, penghuni kolong tol, dan warga yang tidak memiliki akses pendidikan formal karena kendala administrasi maupun ekonomi.

Tanpa biaya dan bantuan tetap dari pemerintah, pria yang akrab disapa Pak Rendy itu menyulap bekas gudang sampah menjadi ruang belajar yang nyaman bersama timnya. Di sekolah ini, anak-anak tak hanya belajar baca tulis, tapi juga diberi pendidikan karakter, bahasa Inggris, komputer, musik, hingga marching band. Bersyukur, Sekolah dan Sanggar S.A.J.A. mendapat bantuan dari lembaga sosial asing Perancis, Poor les Enfants de la Rue (PER), untuk renovasi ruang belajar hingga kanopi halaman sekolah.

Aksi nyata Sekolah dan Sanggar S.A.J.A. menjadi bukti bahwa setiap anak berhak untuk mengakses pendidikan, bermimpi setinggi langit dan mengejar masa depan yang lebih cerah. Besar harapan Yayasan Wijaya Peduli Bangsa agar lebih banyak hati yang tergerak untuk ikut dan mendukung perubahan dalam aspek pendidikan anak-anak.

Mereka Dulu di Jalanan, Kini Rayakan Hari Anak di Sekolah Sendiri!

Mereka Dulu di Jalanan, Kini Rayakan Hari Anak di Sekolah Sendiri!

Jakarta – Memperingati Hari Anak Nasional 2025 yang jatuh pada 23 Juli lalu, Yayasan Wijaya Peduli Bangsa kembali menggelar kegiatan bakti sosial untuk anak-anak binaan Sekolah dan Sanggar S.A.J.A. di Penjaringan, Jakarta Utara, yang dipimpin langsung oleh Eddy Wijaya selaku Ketua Umum. Acara berlangsung penuh kehangatan, diselingi permainan sederhana, interaksi hangat, serta pembagian hadiah dan bingkisan.

Anak-anak yang sebelumnya hidup di jalanan kini dapat menikmati masa kecil yang wajar—bermain, belajar, dan merayakan hari spesial mereka bersama teman-teman dan guru-guru yang penuh cinta. Kegiatan ini bukan hanya tentang seremoni, tapi tentang menghadirkan pengalaman bermakna dan kenangan indah bagi anak-anak yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Yayasan Wijaya Peduli Bangsa pun memiliki keyakinan bahwa setiap anak, siapapun mereka, berhak untuk bahagia, didengar dan bermimpi setinggi langit. Semoga kolaborasi ini mampu mengetuk hati lebih banyak orang untuk peduli dan tergerak dalam perubahan melalui pendidikan.

Anak Jalanan Butuh Bersekolah! Kisah Hebat Sekolah dan Sanggar S.A.J.A.

Anak Jalanan Butuh Bersekolah! Kisah Hebat Sekolah dan Sanggar S.A.J.A.

Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2025, Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa bersama para relawan mengunjungi Sekolah dan Sanggar S.A.J.A. di Penjaringan, Jakarta Utara. Sekolah ini menampung anak-anak dari keluarga prasejahtera, memberikan mereka pendidikan serta kegiatan seni seperti musik, tari, dan komputer.

Didirikan pada tahun 2001 oleh Reinhard Hutabarat, sekolah ini awalnya berdiri di kolong tol dan menampung anak-anak jalanan. Kini, setelah 25 tahun berdiri, banyak anak yang berhasil bersekolah secara formal, dan istilah “anak jalanan” pun mulai menghilang di kawasan tersebut. Semua ini berkat konsistensi, kerja keras, dan semangat melayani anak-anak marginal.

Kunjungan kali ini lebih dari sekedar memperlihatkan kegiatan edukatif dan interaktif, tapi juga menyampaikan pesan penting: bahwa setiap anak punya hak atas masa depan yang cerah. Semoga melalui kolaborasi Yayasan Wijaya Peduli Bangsa bersama Sekolah dan Sanggar S.A.J.A. ini bisa menggugah lebih banyak orang untuk turut peduli dan terlibat dalam perubahan nyata lewat pendidikan.

Kerajinan Kayu dari Limbah, Ini Karya Kreatif Bank Sampah Induk Kumala!

Kerajinan Kayu dari Limbah, Ini Karya Kreatif Bank Sampah Induk Kumala!

Jakarta – Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa mengunjungi Bank Sampah Induk Kumala yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, bertepatan dengan Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia yang jatuh pada 3 Juli 2025 lalu. Dalam kesempatan ini, Syarifah Yunita sebagai perwakilan dari Yayasan Wijaya Peduli Bangsa juga berbincang dengan Bapak Husni, Trainer di Bank Sampah Induk Kumala, yang menjelaskan secara detail proses pemilahan sampah dari masyarakat, mulai dari plastik, kardus, hingga limbah organik yang dikirim ke peternakan maggot.

Sampah yang sudah dipilah lalu dipress dan dijual ke pengepul untuk diolah lebih lanjut. Namun bukan hanya itu saja, Bank Sampah Induk Kumala juga memproduksi kerajinan dari kayu daur ulang seperti gelas, tatakan, dan cangkir. Proses ini bekerja sama dengan laboratorium agar produk aman digunakan, dan mayoritas produknya dibuat dari pesanan dinas pemerintah hingga perusahaan swasta. Kayu-kayu yang digunakan pun didapat dari donasi, bukan hasil pembelian.

Melalui aksi, edukasi dan konsistensi yang dilakukan, Pak Husni bersama Bank Sampah Induk Kumala ingin memberikan pesan sederhana; buang rasa malas, mulai pilah sampah. Pesan ini juga sejalan dengan keyakinan Yayasan Wijaya Peduli Bangsa bahwa dalam menciptakan lingkungan yang lestari serta bermanfaat bagi banyak orang, juga generasi mendatang, bisa dimulai dari sebuah langkah sederhana seperti memilah sampah di rumah dan sekitar kita.

Bank Sampah Induk Kumala: Dari Anak Jalanan Jadi Penggerak Daur Ulang!

Bank Sampah Induk Kumala: Dari Anak Jalanan Jadi Penggerak Daur Ulang!

Jakarta – Eddy Wijaya selaku Ketua Umum Yayasan Wijaya Peduli Bangsa mengunjungi Bank Sampah Induk Kumala bersama para relawan yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara untuk memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia yang jatuh pada 3 Juli 2025 lalu. Dimulai dari unit kecil di tahun 2016, Bank Sampah Induk Kumala kini menjadi bank sampah percontohan nasional, dengan penghargaan tingkat provinsi dan nasional berkat program daur ulang yang melibatkan anak-anak jalanan dan masyarakat sekitar.

Kepada Syarifah Yunita sebagai perwakilan dari relawan Yayasan Wijaya Peduli Bangsa, Kang Cecep menceritakan bagaimana Bank Sampah Kumala bekerja sama dengan pemerintah, perusahaan seperti Pertamina dan Transjakarta, serta mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular. Mereka bahkan punya sistem “menabung dengan sampah”, yang bisa dicairkan dan digunakan untuk kepentingan sosial.

Melalui edukasi langsung ke kelurahan dan RW, Bank Sampah Induk Kumala mendorong perubahan dari rumah ke rumah dengan pesan utama yang sederhana: “Ayo nabung, ayo peduli”. Karena perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Yayasan Wijaya Peduli Bangsa berharap gerakan seperti ini mampu menginspirasi dan menjangkau lebih banyak pihak untuk lebih peduli terhadap sampah serta dampak buruknya pada lingkungan, terutama di masa mendatang.

Copyright © 2026 Yayasan Wijaya Peduli Bangsa